0 komentar

Wanita Malam


Sinar terang meredup tenang..
Lambat laun hadirkan remang....
Gelap malam kembali datang...
Iring sapa dunia hitam...

Langkahku, temaninya berjalan...
Didalam maya, lampu temaram...
Indah terasa disatu tempatan..
Berlimpah tawa, gemerlap kota...

Malamku, malam kerinduan...
Pemuja asa berharap datang...
Lewati gelap menuju terang...
Dengan langit biaskan dosa
0 komentar

Aku Ingin Mengadu


Tuhan, aku ingin mengadu....
Disini di dinginnya malam dan seru deru suara orang bertakbir memanggil-Mu
dosa dan kesalahan kuadukan pada-Mu.
Dimalam tepat aku meyakini bahwa hari esok hari yang "BARU" untukku.

Tuhan, aku ingin mengadu....
Mengadu lara, duka, dusta, bahagia
Ada beban diatas pundakku yang membuatku kehilangan keseimbangan
Membuatku goyah dan bahkan hampir roboh.

Tuhan aku ingin mengadu...
Ada banyak cerita tentang hidup dan aku tak tau rumusnya, 
Tuhan...
aku selalu mencoba jawaban baru dan aku terjebak didalamnya.
Aku tak temukan jalan keluarnya.
Apa aku salah Tuhan...??

Tuhan, aku ingin mengadu...
Jikalau aku harus kecewa, biarlah kecewa
Tapi Tuhan,...
Tak sedetikpun ku inginkan dukaku mejadi dukanya
kecewaku menjadi kecewanya.
tak ingin ku melihat tangisannya berderai 
Dan wajahnya penuh kegelisahan
Cukup aku Tuhan...
Apakah bisa Tuhan....??

Tuhan, aku ingin megadu,..
Aku tak punya penyangga.
Sedangkan aku sudah tak mampu lagi bertahan.
Tuhan , oh Tuhan...
Dengarkah kau tentang aduanku ini...???
Aku sendiri Tuhan.
Karena tak mampu jua aku bicara pada mereka.

Tuhan,... 
Jika aku boleh meminta, kupinta jalan untuk semua ini.
Bukan persimpangan, pertigaan atau perempatan jalan.
Karena aku tak pernah bisa memilih.
Aku hanya butuh satu jalan.
Untukku bisa lanjutkan semuanya.
Jalan ridhomu saatku terapuh
0 komentar

Album ''Seperti Seharusnya"


Sekilas Tentang NOAH

NOAH adalah nama grup band yang digawangi oleh Ariel, Lukman, Reza, Uki dan David sebagai pengganti nama Peterpan. NOAH sendiri memiliki arti “yang membuat nyaman, peacefull, comforter” dan diresmikan saat pers conference pada tanggal 2 Agustus 2012.
Tanggal 16 September 2012 kemarin, NOAH mengadakan konser launching album perdana mereka yang bertajuk “NOAH, born to make history”. Konser ini diadakan di 5 negara (Melbourne, Hongkong, Kuala Lumpur, Singapura dan Jakarta) dan sukses memecahkan rekor MURI sebagai konser pertama yang diadakan di 5 negara dalam satu hari, wow…
Album Perdana NOAH yang berjudul “Seperti Seharusnya” rencananya hanya akan dijual di Gerai KFC di seluruh Indonesia. Jadi sahabat NOAH hanya bisa membeli CD Album tersebut di KFC. Tapi tenang, disini sudah saya upload di Mediafire, jadi buat sobat yang ingin download Lagu NOAH Band - Seperti Seharusnya Full Album silahkan download di link berikut ini :

NOAH - Demi Kita (Sentuhlah Cinta)

NOAH - Hidup Untukmu Mati Tanpamu

NOAH - Ini Cinta

NOAH - Jika Engkau (Berartinya Dirimu)

NOAH - Puisi Adinda

NOAH - Raja Negeriku (Perubahan) (Revolusi)

NOAH - Sendiri Lagi

NOAH - Separuh Aku

NOAH - Tak Lagi Sama

NOAH - Terbangun Sendiri

Update 18/09/2012
Semua lagu NOAH yang ada disini sepenuhnya menjadi hak cipta/hak milik pengarang/artis/label yang bersangkutan. Lagu ini didapatkan dari tempat penyimpanan file pihak ke-tiga, semua syarat/peraturan/ketentuan mengikuti pihak yang bersangkutan. Seluruh media termasuk lirik/chord/video klip yang tersedia disini hanyalah untuk kepentingan promosi & evalusasi. Jika anda menyukai lagu ini, mohon membeli kaset/CD/NSP/RBT untuk mendukung NOAH tetap berkarya di belantika musik Indonesia & dunia.
0 komentar

Surat Terakhir Untukmu (Pemuja Rahasia)

Dear cantik,

Ini adalah surat terakhirku yang aku kirim untukmu. Entahlah, apa kamu menghitungnya atau tidak. Aku hanya berharap kamu membacanya walau kemudian, mungkin, kamu membuangnya.

Tadi siang, aku lihat matamu sembab. Sinar matamu yang indah terlihat redup dan tidak lagi memancarkan gairah hidupmu yang membara. Senyummu pun tak banyak kau umbar, hanya sedikit senyum tipis muncul dari bibir mungilmu yang merah kecokelatan ketika kamu menatap wajah orang – orang yang menyapamu.

Aku sedih melihatmu seperti itu, hatiku sakit dan otakku berdenyut – denyut kencang. Ada apa denganmu? Andai saja aku tahu masalahmu, aku pasti membantumu. Tak peduli apa pun yang harus kukorbankan, aku rela melakukannya. Tapi, itu semua sulit terjadi karena aku sama sekali tak tahu masalah apa yang sedang kau hadapi kali ini. Kamu pun tak mungkin bercerita padaku karena kamu tak tahu siapa aku sebenarnya.

Ya, kamu boleh sebut aku pengecut karena tak mau menampakkan batang hidungku di hadapanmu. Tapi, ada yang harus kamu ketahui, aku seperti ini karena aku bukan laki – laki seperti yang kamu harapkan. Jika kita bertemu dan saling mengenal, cepat atau lambat, aku pasti akan mengecewakanmu. Aku juga tahu, surat – surat yang selalu aku kirim selama ini telah membuatmu mulai menyukaiku atau – lebih tepatnya – menyukai tulisan dalam surat – suratku dan mulai mencari tahu siapa aku.

Aku sangat mengenalmu, Cantik. Bahkan, aku lebih mengenalmu daripada mengenal diriku sendiri. Memang terdengar sedikit ekstrem, tapi itu semua benar karena aku begitu memujamu. Aku bukan hanya memujamu, melainkan juga menyayangimu. Menyayangimu melebihi aku menyayangi diriku sendiri. Karena itu, aku melakukan apa saja yang aku bisa lakukan untuk membantumu walau tanpa sepengetahuanmu.

Kamu memang tidak mengenalku walau aku sangat mengenalmu. Meskipun begitu, kita memiliki banyak kenangan yang mungkin tidak pernah dimiliki orang lain, selain kita berdua. Kamu ingat, ketika buku catatan berisi curahan hatimu yang sudah kamu isi sejak SMP terjatuh ke dalam selokan besar di belakang kampus? Saat itu, kamu hanya bisa menatap sedih dan berusaha menahan air mata yang hampir keluar dari matamu yang indah. Kamu langsung pulang ke rumah, padahal masih ada satu mata kuliah yang harus kamu ikuti waktu itu. Aku, yang tidak tahan melihat kesedihan di wajahmu, langsung membenamkan kakiku ke dalam selokan itu. Aku meraba – raba ke dalam dasarnya, berusaha mencari buku tebal berwarna hijau tua itu.

Aku memang cukup lama berada di dalam selokan itu karena bukumu tak juga ditemukan. Beberapa orang yang melihatku mengira aku sedang depresi, tapi aku tidak peduli sama sekali. Kususuri selokan yang panjang itu tanpa menghiraukan pakaianku yang kotor karena air selokan yang tercampur dengan Lumpur. Dengan perjuangan yang cukup melelahkan, akhirnya kutemukan buku kesayanganmu itu.

Di rumah, kukeringkan lembar demi lembar ratusan kertas bukumu menggunakan pengering rambut. Aku lakukan dengan hati – hati agar tidak robek. Butuh waktu berjam – jam untuk membuatnya benar – benar kering. Peluhku pun jatuh tak terelakkan lagi, tapi aku benar – benar tulus melakukannya. Aku bahagia bisa melakukannya untukmu karena aku selalu ingin melakukan sesuatu yang berarti untukmu, Cantik.

Keesokan harinya, tepatnya, pukul enam lewat dua puluh menit, aku sudah sampai di depan rumahmu. Buku hijaumu yang sudah kubungkus rapi dengan bungkus kado bercorak bunga anggrek dan kurekatkan amplop kecil berisi kertas dengan tulisan : “Untuk Reyna. Jangan ceroboh lagi!”.

Amplop itu kuletakkan di depan pintu rumahmu. Lalu, aku menekan bel rumahmu dan langsung berlari ke belakang pohon beringin yang ada di seberangnya. Beberapa detik kemudian, ibumu keluar dan mengambil bingkisan itu. Selang satu menit kemudian, aku mendengar sayup – sayup teriakan bahagiamu. Lega aku mendengarnya, hanya itu yang ingin kudengar darimu dan aku berhasil. Saat itu, aku terus mengucap rasa syukur kepada Tuhan.

Cantik, seberapa besar masalahmu kali ini, tolong untuk selalu ingat pesanku yang pernah kutulis pada surat yang pertamaku itu : sempatkanlah untuk tertawa dalam satu hari meskipun Cuma sedikit. Dengan demikian, energi positif akan mengalir dalam tubuhmu dan akan membuat jiwa dan pikiranmu lebih tenang. Kamu pun akan lebih siap mengatasi segala masalah dengan baik. Aku masih ingat kejadian yang kau alami waktu itu. Dengan mata kepalamu sendiri, kamu melihat laki – laki yang sudah menjadi pacarmu selama satu setengah tahun merangkul mesra sorang wanita bertubuh jangkung, berhidung mancung. Saat itu, kamu menangis di pelukan sahabatmu. Aku pun berpikir, apa yang bisa aku lakukan untukmu?

Memperbaiki hubungan kalian yang sudah berantakan, jelas aku tidak bisa. Lagi pula, aku tidak rela kamu meneruskan hubungan dengan laki – laki berengsek seperti dia. Akhirnya, aku hanya focus untuk menenangkan dirimu dulu, berusaha menghibur walau tidak secara langsung, agar kamu tidak terus larut dalam kesedihan. Kuputuskan untuk mengirimmu sepuluh buku kumpulan cerita lucu dari penulis dan penerbit yang berbeda, dengan ketebalan yang berbeda pula. Kukirimkan bersamaan dengan surat pertamaku. Dan, aku berhasil lagi. Kulihat kamu membaca salah satu bukunya di sela – sela menunggu jam kuliah di kampus. Sesekali, kamu tertawa geli, bahkan tak jarang kamu pun sampai terpingkal – pingkal. Berangsur – angsur, kesedihanmu pun hilang dan kamu berhasil melupakan laki – laki buaya itu. Oh, ya, selain itu, aku juga melakukan sesuatu yang aku sendiri tidak menduganya, tapi kamu jangan marah, ya! Aku memberikan hadiah satu pukulan keras tepat di wajah laki – laki yang pernah kamu panggil “Sayang” itu dan dia KO dengan keadaan tulang hidung yang mungkin patah.

Di surat yang terakhir ini, entah kenapa aku ingin menceritakan kenangan – kenangan lainnya yang mungkin tidak kamu sadari. Namun, aku tidak bisa menuliskan semuanya karena aku sudah tidak seperti dulu. Tubuhku kini sudah lelah menopang segala keinginanku. Aku sakit. Beberapa organ tubuhku perlahan – lahan hancur digerogoti penyakit yang kuidap ini. Tadi siang, mungkin, adalah hari terakhir aku bisa menatap wajahmu – walau hanya dari balik jendela mobil yang kubuka setengah kacanya. Untung aku punya kakak perempuan yang baik, yang mau mengantarku melihat wajah cantikmu untuk kali terakhir.

Sekarang, kamu sedang membaca surat terakhirku yang diantar langsung oleh kakakku kepadamu. Kakakku pasti memberikan surat ini sambil menangis, kan? Ya, dia mirip seperti kamu, mudah mengeluarkan air mata. Cantik, terima kasih karena kamu mau mengikuti peraturannya untuk tidak membuka amplop berwarna merah muda sebelum kamu selesai membaca surat ini.

Kamu tidak mengenalku, tapi tenang saja, aku tidak akan setega itu membiarkanmu penasaran sepanjang hidupmu. Sekarang, silakan kamu buka amplop warna merah jambu itu. Kamu akan tahu siapa aku, tapi kamu tidak akan lagi bertemu dengan laki – laki di foto yang ada dalam amplop itu. Kini, aku sudah pergi ke tempat di mana aku tidak akan pernah bisa mengirim surat cinta untukmu lagi. Di sana, aku hanya bisa melihatmu membaca surat ini dari alam tak terjamah.

Jangan menangis, Cantik!
Aku tidak akan tenang melihatmu seperti ini. Yakinlah bahwa kelak kita akan bertemu walau hanya di alam keabadian dan saat itu kamu akan tersenyum untukku.


Selesai
0 komentar

Cita-cita Untuk Bunda (Eps.1)

Disebuah kolong jembatan dipinggiran kota yang terlihat sedikit kumuh, kotor dan pemandangan yang kurang enak dipandang mata kebanyakan. Hiduplah sebuah keluarga yang kurang beruntung (ya.. bias dibilang begitu), dan hidup dibawah orang-orang yang berkecukupan.
Hidup sebagai pemulung adalah salah satu jalan terakhir yang harus mereka lakukan setiap harinya sebagai penyambung hidup dan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari  meski hasil yang didapat belum pasti bisa mencukupinya ditengah-tengah glamournya kehidupan kota sekitar dan tuntutan ekonomi pada umumnya.
Ibu Dyah, adalah seorang wanita pahlawan bagi anak-anaknya yang masih kecil sebut saja Ayu yang berumur 5 tahun dan kakaknya Dewi yang berumur 7 tahun.
Mereka berdua sehari-harinya membantu ibunya dalam mencari nafkah setelah mereka selesai mengikuti pelajaran dari sekolahnya, maklum Ayahnya yang seorang tukang ojek meninggal dunia ketika kakaknya Dewi masih berumur 5 tahun karena tragedi yang dialaminya setelah membantu sebuah keluarga yang mengalami sebuah perambokan bersenjata yang sialnya menimpa sang ojek tersebut.

Gelap malam saat itu mulai menyingsing perlahan. Suara kokok ayam sedari tadi terdengar riuh bersahutan. Terdengar suara gemercik air dari belakang rumah seperti orang mengambil air dari bak penampungan air yang terbuat dari drum plastic berwarna biru terbalut sedikit lumut hijau.
“ Ibu, bangun bu…!! Hari sudah mau pagi, nanti keburu telat untuk shalat shubuh !!“. Dewi membangunkan ibunya sembari mengingatkan ibunya untuk shalat shubuh.
“ Oh, kamu Wi,..!!
“ Sudah shalat toh…??”
“Adikmu sudah bangun blom…??”
“Bangunin cepat adikmu, Wi..!! Timpal Ibunya sambil menyuruh membangunkan adiknya yang tidur dikamar samping dekat dapur yang berukuran cukup kecil.
“Iya, Bu..!! cetus Dewi singkat, sambil bergegas berjalan menuju kamar adiknya.
“ Yu,, Ayu bangun..!!”
“ Sudah mau pagi “. Bangunkan adiknya sambil menyibakkan rambutnya yang menutupi sebagian wajahnya.
“ Kakak !!” kaget adikya melihat kakaknya.
“Cepat bangun, terus shalat shubuh..!!”
“Ibu sudah dibelakang rumah tuh nimba air, sekalian saja ambil wudhu dan shalat bareng ma ibu..” Timpal Dewi sembari membantunya untuk bangun dari tempat tidurnya.
“Ibu..!!” rengek Ayu kepada ibunya.
“Eh, Ayu.. sudah bangun toh…!! Ambil wudhu sana, nanti kita shalat bareng.” Ajak ibunya untuk mengambil wudhu.
“ Kak Dewi kok nggak ikut shalat, Bu…??” Tanya Ayu sambil mengangkat air timba yg berada diember.
“Kak Dewi sudah shalat tadi, dia bangun lebih awal” Ibunya menjelaskan.

Lalu mereka berduapun mengambil air wudhu dan segera melaksanakan shalat shubuh bersama. Sementara Dewi sedang menyiapkan bahan-bahan untuk dimasak.
“Sedang apa, Nak..??” Tanya ibunya sembari membuka mukenanya perlahan.
“Oh, Ibu..!! Sudah shalatnya, Bu..!!”
“Ini saya sedang membuat sarapan pagi.” Timpal Dewi sambil mengiris bahan untuk membuat nasi goreng.
“Ya sudah, nanti ibu bantu setelah ibu ganti baju.” Sambung ibunya dan bergegas menuju kekamar untuk ganti baju.
Dan merekapun bahu-membahu menyiapkan sarapan pagi untuk disantap. Pagi ini, mereka harus berangkat sekolah lebih awal karena Dewi, kebagian tugas piket disekolahnya.
“Dewi, mana adikmu…??”
“Panggil cepat, nanti keburu siang” pinta ibunya kepada Dewi, kakaknya.
“Baik, Bu…!!” jawab Dewi singkat.
Dan merekapun menyegerakan sarapan pagi seadanya, lalu bergegas pamit untuk berangkat kesekolah.
“Ibu, Dewi berangkat dulu yah…!!” pamit Dewi.
“Ayu juga, Bu…!!” sambung Ayu ikuti ucapan kakaknya.
“Assalamu’alaikum..!!” ucap kompak mereka berdua untuk pamit.
“Iya, hati-hati nak..!! Wa’alaikum salam..!!
“Belajar yang baik, yah…!!” timpal ibunya tersenyum.
Kedua anak itupun bergegas pergi kesekolah dengan berjalan kaki, Ayu yang masih mengenyam pendidikan di Taman kanak-kanak, lebih dulu tiba di sekolahnya sementara Dewi masih harus menempuh 100m dari Taman kanak-kanak dimana Ayu belajar.
Ayu mengikuti pelajaran di Taman kanak-kanak karena mendapatkan bantuan dari pemerintah setempat karena ketidakmampuan orang tuanya.
Sementara Dewi, kakaknya mendapatkan bantuan dan orang tua asuh dari keluarga yang pernah ditolong oleh ayahnya ketika perampokan.


Sementara  dirumah, Sang ibu membereskan rumah kecilnya yang semua terbuat dari triplek dan sebagian terlihat terbuat dari bekas karton pabrikan yang mereka temple di sudut-sudut rumahnya. Lalu segera pergi untuk mencari nafkah sebagai pemulung dengan mengais sebuah karung yang berukuran cukup besar dan sebatang besi untuk mengkait barang-barang bekas tersebut.
0 komentar

Cita-cita Untuk Bunda (Eps.2)

Setelah kedua anaknya beranjak tidur, sang ibu bergegas mengambil air wudhu kemudian melaksanakan shalat sunnah dan setelah itu mengenadahkan kedua tangannya seraya berdoa dan memanjatkan puja-puji kepada Sang Pencipta.
“Ya Tuhan,, berikan mereka rezeki dan jalan untuk menggapai cita-citanya. Dan jangan sampai anakku tahu sesunguhnya apa yang sedang saya alami dan rasakan. Biarkan hamba melihat mereka bahagia, dan biarkan anakku selalu melihatku tersenyum.
Berikan selalu kasih sayang-Mu, dan lindungi mereka dengan kesehatanmu, Amin.” Harap dan doa sang ibu untuk anaknya sambil menangis yang tak henti-hentinya mengeluarkan air mata.

Seperti yang diketahui sebelumnya, dulu sang ibu pernah sakit-sakitan dan setelah berobat kepada dokter,,,secara mengejutkan, dokter memvonisnya bahwa sang ibu menderita leukimia akut. Sedangkan untuk biaya berobat, mereka tidak mempunyai nilai nominal yang harus mereka keluarkan untuk biaya perawatan.
Sementara harta mereka yang tersedia sudah habis terkuras setelah suaminya berfoya-foya menghabiskan harta bendanya dengan bermain judi hingga mereka menjadikan rumah hunian mereka sebagai jaminannya karena terlilit oleh hutang suaminya.

Hari berganti hari, bulan dan tahun pun kian berlalu.
Dewi dan Ayu semakin beranjak menjadi anak pintar dan berprestasi sehingga mereka mendapatkan sebuah beasiswa dari sekolahnya. Sang ibupun menangis haru dan gembira setelah mendengar berita tersebut dari cerita anaknya sendiri.
Hingga suatu waktu, Dewi anak paling besar mempunyai angan-angan untuk melanjutkan kesekolah favorit sementara Ayu, adiknya melanjutkan sekolah dimana kakaknya dulu pernah mengenyam pendidikan.
Dan akhirnya, Dewi diadopsi oleh orang tua asuh yang tak lain adalah orang yang pernah ditolong oleh ayahnya.
“Assalamu’alaikum, Bu Dyah.!!” Panggil orang tua asuh itu yang biasa dipanggil Pak Roni.
“Wa’alaikum salam” jawab Bu Dyah sembari membuka pintu depannya.
“Oh, Pak Roni..Bu Dina..!!”
“Mari masuk Pak, Bu..!!” ajak Bu Dyah sambil mengajaknya untuk masuk dan duduk dilantai yang beralaskan tikar.
“Dewi dan Ayu pada kemana, Bu..??” tanya Pak Roni.
“ Oh, ada dibelakang,,,bentar saya panggil” jawab Bu Dyah sambil memberitahu dimana anak mereka berada.
“Dewi,,, Ayu,,,,!!”
“Sini, Nak…!! ada Paman Roni dan Bibi Dina nih…!!” panggil ibunya sembari menyebutkan siapa yang datang.
“Iya, Bu..,, sebentar..!!” sahut keduanya yang kemudian mendatangi ibunya.
“Nah, beri salam dulu sama paman dan bibi, nak..!!” pinta ibunya yang dilaksanakan oleh kedua anaknya tersebut.
“Wah, sudah pada besar yah sekarang..!!” cetus Pak Roni.
“Siapa yang nilainya paling tinggi nih..??” Pak Roni bertanya.
Lalu kedua anak itu tertunduk malu untuk menjawab dan hanya menebarkan senyum saja
“Dewi nilainya cukup bagus, Pak..!!”
“Kalau Ayu, lumayanlah, kan msih kecil dan perlu banyak belajar banyak lagi.” memberitahukan prestasi anaknya sembari merangkul mereka berdua dengan hangat.
“Ya sudah,,,sekarang siapa yang mau ikut dengan paman..??” ajak Pak Roni.
Dewi dan Ayu pun spontan menatap sosok ibunya.
“Ayo,,,Dewi atau Ayu yang mau ikut dengan Bu Dina…??” tanya ibu Dyah kepada kedua anaknya.
“Ayu,,,!!” tanya Bu Dina
“Gak mau,,,Ayu pengen dekat dengan ibu..!!” tolak Ayu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Bagaimana dengan Dewi..??” tanya Bu Dina lagi.
“Kalau ibu mengijinkan, Dewi ikut.”
“Tapi, kalau Dewi ikut, siapa yang akan mengurus dan merawat ibu..??”
“Lalu, siapa yang akan menemani Ayu” tanya Dewi beruntun sambil memeluk tubuh ibunya.
“Ya sudah,,,,kamu saja yang ikut dengan Paman dan Bibi, katanya punya citi-cita menjadi seorang dokter, kejarlah selagi bisa…kalau ibu kan masih bisa mengurus ibu sendiri dan Ayu nanti ibu yang nemenin.”timpal ibu Dyah sambil memberikan semangat dengan mengecup kening Dewi berulang-ulang.
“Betul kata ibumu,Wi.!! Toh, nanti kalau kamu liburan sekolah, kita bisa berkunjung lagi kesini bersama-sama, ya kan Bu..??cetus Pak Roni menyambung bujukan bu Dyah sembari memberikan harapan kepada Dewi.
“Kalau begitu, Dewi mau ikut Paman dan Bibi tapi janji, kalau libur sekolah, Dewi boleh ikut ibu, ya..!! jawab Dewi sedikit bimbang.
“Bergegaslah ganti bajumu..!!” suruh ibunya.
“Iya, Bu..!! jawab Dewi singkat dan bergegas masuk kekamar untuk mengganti pakaiannya.

0 komentar

Cita-cita Buat Bunda (Eps.3)

Sementara ibunya mencoba bertahan menahan kesakitan, mencoba tegar, ikhlas, dan tawakal.
“Allahu Akbar..!!”
“Laillahaillallah,, muhammadarosullullah”. Ucap dalam hati terbata-bata.
“Ya Allah, Ya Tuhanku,,, mudahkanlah jalanku, ampuni hambamu ini, segerakan sakaratul mautmu sebelum hamba melihat kesedihan yang teramat sangat dari buat hati hamba yang taat, hamba mohon Ya Allah.!! Asshaduallaillahaillah Wa’ashaduannamuhammadarrosulullah..!!” doa dan kalimat terakhir yang diucapkan Bu Dyah meski dalam hati yang diakhiri menutupnya mata dan berhentinya aktifitas organ tubuhnya dengan raut wajat yang bercahaya.

Di perjalanan menuju pulang, Ayu seperti mendapatkan sebuah firasat buruk yaitu obat batuk dalam kemasan botolnya terjatuh ketanah berserakan secara tiba-tiba.
“Astagfirullah…!!” ucapnya terkejut
Tanpa pikir panjang, Ayu segera berlari dan berlari menuju rumahnya dan menemui  ibunya yang sedang terbaring lemas tak berdaya.
“Ibu…. Ibu…. Ibu….!!” Teriak Ayu cemas.
“Bu, bangun Bu..!!” lirihnya sambil menarik-narik bajunya yang bermotif batik.
“Bu, Ayu sudah pulang, Bu..!!”
“Bangun dong, Bu..!!” harap lirihnya sambil menempelkan tangan ibunya dipipi sebelah kiri.
Teriak Ayu pun semakin menjadi tatkala tangan ibunya terasa dingin dengan kulit mulai berwarna pucat hingga denyut nadi ditangannya tiada berdenyut semestinya.
“Bu…..!!!” teriak Ayu.
“Ibu, jangan tinggalkan Ayu, Bu..!!”
“Ayu mohon..!!”
“Bangun, Bu…!!”
“Ibu….Ibu…..!!!” teriak Ayu yang sekencang-kencangnya hingga suaranya semakin parau dan tersendak-sendak.
Dan ternyata teriakan keras Ayu mengundang para tetangga berdatangan untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi dirumah itu. Dan ketika ditemuinya, terlihat seorang gadis kecil terkulai layu disamping ibunya yang telah meninggal.
“Innalillahi wainalillahi roji’un…!!” ucap para tetangga kompak.
Akhirnya para tetangga secara gotong royong mengurus pemakaman ibu Dyah karena warga menyadari bahwa keluarga ini termasuk keluarga yang kurang mampu.
Sementara anaknya Ayu, masih dalam keadaan tidak sadarkan diri karena masih merasa shock atas kematian ibu tercinta, dan sementara tinggal dengan tetangga yang simpati terhadapnya.

Dilain tempat, Dewi anaknya dan kakak dari Ayu mendapatkan firasat buruk juga yaitu ketika bercermin dikamarnya ternyata cermin yang berada didepannya jatuh dan menimpa kakinya.
“Praakkk..!!” cermin dikamar Dewi jatuh.
“Astagfirullah” Dewi spontan berucap.
“Apa yang terjadi ya…!!” tanya Dewi dalam hati.
“Wi, suara apa itu..??” tanya Bu Dina merasa kaget.
“I..ini, tante,,, cerminnya jatuh..!!” sahut Dewi sedikit terbata.
“lho,kok bisa…??” tanya Bu Dina heran.
“Dewi juga tidak tahu, tante,, tiba-tiba saja cermin ini jatuh” Dewi menjelaskan kronologis kejadian.
“Ya sudah,,, sekarang bersihkan puingnya,,,,nanti terinjak kakimu..!!” suruh Bu Dina.
“Iya, tante..!!” sahut Dewi
“Apakah ini sebuah firasat dari ibu dan Ayu..?? semoga saja tidak terjadi apa-apa dengan mereka.” Bertanya-tanya dalam hati seraya mengaburkan pikiran negativenya.
“Tante, kapan kita mengunjungi ibu dan Ayu..??” tanya Dewi sembari mengingatkan janjinya.
“Oh iya…!!”
“Tunggu paman pulang dulu dari luar kota, yah..!! 2 hari lagi paman pulang,,,,sekalian membeli boneka kesukaannya Ayu. Harga disanakan lebih murah dan bonekanya bagus-bagus.” Kata Bu Dina sembari mengelus-elus rambut Dewi yang panjang terurai.
“Jadi kamu sabar aja, ya..!!” sambung Bu Dina.
“Iya, tante..!!” pungkas Dewi lemas.

0 komentar

Cita-Cita Untuk Bunda (Eps.4)


Dan atas petunjuk alamat tersebut, Pak polisi pun tidak menyia-nyiakan waktunya untuk mendatangi kediaman Pak Roni.
“Tok…tok…tok…!!” suara pintu diketuk dari luar
“Selamat siang, Pak..!!” Tanya pak polisi
“Siang juga, ada keperluan apa bapak-bapak datang kesini..??” tanya Pak Roni kebingungan dan sedikit bertanya-tanya.
“Apakah benar ini alamatnya Bpk Roni Suganda..??” Pak polisi bertanya sambil membacakan nama dan alamat yang yang tertera didalam kartu nama tersebut.
“Iya, betul.., saya sendiri..!!”
“Ada yang bisa saya bantu, Pak..!!” kembali Pak Roni bertanya penasaran.
“Begini Pak Roni,, ada seorang anak gadis yang berumur sekitar 5-6 tahunan tadi pagi mengalami kecelakaan dan akhirnya meninggal dunia ketika dalam perjalanan menuju rumah sakit akibat pendarahan yang hebat. Dan sekarang jenazahnya sedang dalam pengawasan dirumah sakit. Apakah Bapak mengenal anak ini atau merasa kehilangan keluarga..??” Pak polisi mencoba menjelaskan perihal kedatangannya dan memberitahukan insiden yang menimpa gadis malang itu.
“Anak..?? saya tidak mempunyai anak, Pak..!! memang sih, saya mengadopsi anak perempuan tp umurnya sekitar 9 tahun dan itupun sedang berada diruangannya.” Pak Roni menjelaskan perihal anggota keluarganya dengan diliputi kebingungan.
“Tapi sebentar, Pak..!! saya tanya dulu kepada istri saya..!!” sambung Pak Roni.
“Mah,,, mamah..!! kesini dulu, mah..!!” teriak Pak Roni memanggil istrinya.
“Ada apa, Pah..!!” Bu Dina membalas sahutannya.
“Lho, kok ada polisi..??”
“Ini kenapa, Pah..?? Papah sudah melakukan kesalahan apa..??” Bu Dina kebingungan.
“Pak polisi, suami saya salah apa..??” sambung Bu Dina yang bertanya cemas dan terkejut.
“Ibu,, saya beserta bapak-bapak ini kesini hanya berdasarkan alamat dalam kartu nama ini, dan kartu nama ini sendiri kami dapati dalam genggaman seorang anak gadis yang meninggal karena kecelakaan di terminal tadi pagi.” Terang Pak polisi perihal kedatangannya.
“Gadis kecil,, kecelakaan..??” Bu Dina bertanya heran.
“Saya masih kurang begitu paham maksud dari bapak-bapak ini..??” sambung Bu Dina lagi.
“Ya sudah,, baiknya Bapak dan Ibu melihat dulu jenazah anak itu dan ini alamat rumah sakitnya.” Pak Polisi menyarankan agar mengecek ke rumah sakit.
“Baiklah,, saya akan melihat jenazah anak siapa dan siapa sebenarnya gadis itu.”
“Bu,,, pamggil Dewi.. kita sama-sama ke rumeh sakit tersebut.” Pak Roni mengakhiri perbincangannya dengan pak polisi sembari menyuruh istrinya untuk mengajak Dewi kerumah sakit.
“Wi,, ikut paman dan bibi ke rumah sakit yuk…!! Ajak Bu Dina sembari memanggil Dewi di kamarnya dengan rasa penuh penasaran.
“Iya, tante..!! kerumah sakit..??”
“Emangnya siapa yang sakit, tante..??” sahut Dewi  bertanya dalam kamar.
“Ada anak kecil yang tertabrak diterminal dan dia menggenggam kartu nama atas nama Bapak.” Bu Dina menjelaskan maksud dan tujuannya.
“Owh,, kalau begitu, Dewi ganti pakaian dulu sebentar, tante..!! balas Dewi sambil bergegas mengganti pakaiannya.
Tak berapa lama kemudian mereka sekeluargapun melaju dengan mobilnya menuju rumah sakit dengan didampingi beberapa polisi yang tadi datang kerumahnya.

Setibanya dirumah sakit, mereka langsung memarkir mobilnya ditempat yang telah disediakan dan segera keluar dari dalam mobil menuju lobi rumah sakit tersebut.
“Pak Roni dan Ibu,, ini rumah sakitnya.” ucap Pak Polisi.
“Terimakasih, Pak..!!” jawab Pak Roni singkat.
“Ayok,,, kita sama-sama masuk..!!” ajak pak polisi.
“Iya,, terimakasih Pak, mari..!!” jawab Pak Roni sambil mempersilahkan pak polisi untuk berjalan duluan.
Dan setelah Pak polisi tiba didepan pintu ruangan dimana jenazah anak kecil itu terbaring, pak polisi mempersilahkan keluarga ini untuk memeriksa jasad tersebut.
“Pak, Bu,,, silahkan bapak sekeluarga masuk dan memeriksa jenazah anak itu, siapa tahu bapak dan ibu mengenal identitas sebenarnya anak itu.
“Baik, Pak..!! terimakasih banyak bantuannya..!!” timpal Pak Roni.
“Ayo, mah,, kita periksa..!!” ajak Pak Roni kepada Dewi dan istrinya.
Akhirnya mereka bertigapun masuk pelan dengan wajah diselimuti rasa penasaran akan siapa sebenarnya anak ini hingga bisa memegang kartu namanya.
Sementara Dewi berjalan dibelakang mereka berdua.

Dan betapa terkejutnya bukan main tatkala Pak Roni menyibakkan kain yang menutupi mukanya yang tak lain adalah sosok gadis kecil yang pernah ia temui dan tak lain, adik dari anak asuhnya yang bernama Ayu.
“Laillahailallah,,, Innalillahiwainnaillahi roji’un..!!” sontak Pak Roni terkejut setelah membuka kain penutup wajah anak itu.
“Mah,, Dewi,, ini Ayu…!!” Pak Roni memberitahu bahwa yang terbaring tak berdaya adalah Ayu sembari menatap kosong kearah Dewi dan istrinya.
Sontak Dewi berlari dan mendekati jenazah adiknya sembari berteriak memanggil nama adiknya yang amat dia sayangi. Sementara Pak Roni dan Bu Dina hanya terdiam membisu menatap wajah mungil Ayu yang terbaring tak bernyawa dengan menangis dan kedua belah tangannya menutupi sebagian wajahnya seakan tak percaya.
“Ayu….Ayu….!!” teriak panjang Dewi seakan memekakkan seluruh telinga yang berada dalam rumah sakit itu.
“Ayu bangun,, ini kakak sayang..!! maafkan kakak, kakak tidak bisa menjaga Ayu,,, kakak telah meninggalkan Ayu dan ibu, kakak mohon,,,, maafkan kakak ya..!!” lirih Dewi disamping jenazah adiknya itu.
“Sudahlah, Nak… sabar..!!” Bu Dina coba menenangkan hati Dewi.
Dan tak lama kemudian, Pak polisi menghampiri keluarga yang berkabung ini.
“Apakah jenazah ini bagian dari keluarga Bapak..??” tanya Pak polisi kepada Pak Roni.
“Iya, Pak..!! saya mengenalnya dengan baik, dia sudah saya anggap sebagai bagian dari keluarga ini. Dia adalah adik dari anak yang saya asuh dan itu sudah menjadi tanggungjawab saya dan keluarga, dan saya ucapkan banyak terimakasih karena bapak telah memberitahu kami akan hal ini” cetus Pak Roni kepada pak polisi sembari mengucapkan terimakasih.
“Baiklah, Pak..!! saya serahkan sepenuhnya jenazah ini kepada bapak untuk mengurusnya dengan baik.”
“Kalau begitu, saya permisi pamit, Pak..!!” Pak polisi menyerahkan barang bawaan Ayu sembari meminta ijin untuk pamit dan langsung meninggalkan ruangan itu.
Tak lama kemudian petugas kamar jenazah mendatangi keluarga ini untuk memberitahukan bahwa jenazah Ayu segera akan dibersihkan.
“Nak,, sudah, sabar ya..!! mungkin ini sudah jalannya, kamu harus ikhlas,, ini cobaan, tegar ya..!!” pinta Bu Dina sambil merangkul tubuh Dewi untuk membiarkan para perawat untuk mengurus jenazah tersebut.
“Bapak,, Ibu,, dan Adik..!! bisa tunggu diluar sebentar, saya dan petugas kamar ini akan membersihkan dan memandikan jenazah tersebut. Dan bapak bisa mengurus administrasinya didepan supaya para petugas bisa memandikannya dengan segera dan bisa segera dimakamkan.” ucap salah seorang petugas kamar jenazah sembari mempersiapkan segala keperluan untuk memandikan jenazah tersebut.
“Baik, Pak..!! terimakasih sebelumnya.!!” sahut Pak Roni.
“Mari, Mah,, Dewi…!! Kita keluar sebentar supaya petugas bisa lebih focus mengurusnya.” ajak Pak Roni dan menuju keluar ruangan untuk segera menyelesaikan administrasi.

2 komentar

Noah Batam









0 komentar

Buku Kisah Lainnya

" Kisah Lainnya " adalah sebuah rilis buku dgn no.ISBN 9789799104823 yang merupakan hasil Catatan antara para personil Ex.Peterpan yang berawal di tahun 2010 hingga 2012.
Buku setebal 228 halaman dan berukuran 13.5 cm x 20 cm akan rilis dan didistribusikan kekhalayak ramai pada tanggal 05 Agustus 2012 dengan balutan Soft Cover Merah Marun yang dihiasi dengan Ikon Band mereka yaitu Bulu Putih menghadap ke kanan.
Berikut adalah Synopsis dari para penulis buku tersebut yang antara lain Ariel, Uki, Reza, Lukman dan David.








Synopsis : 

* Ariel
"Seaneh apapun kehidupan saya, saya tetap mensyukurinya, karena kehidupan itu sendiri sebenarnya adalah sebuah keajaiban. Bareskrim, Kebon Waru, adalah tempat mempersiapkan diri. Kami akan meneruskan perjalanan".

* Uki

"Banyak sekali spekulasi yang mengatakan kalau band ini sudah tidak akan bisa jalan lagi.... Album Suara Lainnya adalah jawaban bagi mereka yang meragukan kami".

* Lukman

"Saya banyak memahami soal keimanan, hubungan manusia dan Sang Khalik, dan hubungan dengan sesama manusia".

* Reza

"Ketika mengantre di kasir, seorang perempuan paruh baya mengeluarkan kalimat tak senonoh tentang diri Ariel. Saya mencoba untuk tampak biasa-biasa saja. Istri saya langsung pergi".

* David

"Selama masa-masa sulit itu, dalam doa, saya sangat berharap nafas jiwa saya bisa kembali hidup".





 
;