Cita-cita Untuk Bunda (Eps.1)

Disebuah kolong jembatan dipinggiran kota yang terlihat sedikit kumuh, kotor dan pemandangan yang kurang enak dipandang mata kebanyakan. Hiduplah sebuah keluarga yang kurang beruntung (ya.. bias dibilang begitu), dan hidup dibawah orang-orang yang berkecukupan.
Hidup sebagai pemulung adalah salah satu jalan terakhir yang harus mereka lakukan setiap harinya sebagai penyambung hidup dan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari  meski hasil yang didapat belum pasti bisa mencukupinya ditengah-tengah glamournya kehidupan kota sekitar dan tuntutan ekonomi pada umumnya.
Ibu Dyah, adalah seorang wanita pahlawan bagi anak-anaknya yang masih kecil sebut saja Ayu yang berumur 5 tahun dan kakaknya Dewi yang berumur 7 tahun.
Mereka berdua sehari-harinya membantu ibunya dalam mencari nafkah setelah mereka selesai mengikuti pelajaran dari sekolahnya, maklum Ayahnya yang seorang tukang ojek meninggal dunia ketika kakaknya Dewi masih berumur 5 tahun karena tragedi yang dialaminya setelah membantu sebuah keluarga yang mengalami sebuah perambokan bersenjata yang sialnya menimpa sang ojek tersebut.

Gelap malam saat itu mulai menyingsing perlahan. Suara kokok ayam sedari tadi terdengar riuh bersahutan. Terdengar suara gemercik air dari belakang rumah seperti orang mengambil air dari bak penampungan air yang terbuat dari drum plastic berwarna biru terbalut sedikit lumut hijau.
“ Ibu, bangun bu…!! Hari sudah mau pagi, nanti keburu telat untuk shalat shubuh !!“. Dewi membangunkan ibunya sembari mengingatkan ibunya untuk shalat shubuh.
“ Oh, kamu Wi,..!!
“ Sudah shalat toh…??”
“Adikmu sudah bangun blom…??”
“Bangunin cepat adikmu, Wi..!! Timpal Ibunya sambil menyuruh membangunkan adiknya yang tidur dikamar samping dekat dapur yang berukuran cukup kecil.
“Iya, Bu..!! cetus Dewi singkat, sambil bergegas berjalan menuju kamar adiknya.
“ Yu,, Ayu bangun..!!”
“ Sudah mau pagi “. Bangunkan adiknya sambil menyibakkan rambutnya yang menutupi sebagian wajahnya.
“ Kakak !!” kaget adikya melihat kakaknya.
“Cepat bangun, terus shalat shubuh..!!”
“Ibu sudah dibelakang rumah tuh nimba air, sekalian saja ambil wudhu dan shalat bareng ma ibu..” Timpal Dewi sembari membantunya untuk bangun dari tempat tidurnya.
“Ibu..!!” rengek Ayu kepada ibunya.
“Eh, Ayu.. sudah bangun toh…!! Ambil wudhu sana, nanti kita shalat bareng.” Ajak ibunya untuk mengambil wudhu.
“ Kak Dewi kok nggak ikut shalat, Bu…??” Tanya Ayu sambil mengangkat air timba yg berada diember.
“Kak Dewi sudah shalat tadi, dia bangun lebih awal” Ibunya menjelaskan.

Lalu mereka berduapun mengambil air wudhu dan segera melaksanakan shalat shubuh bersama. Sementara Dewi sedang menyiapkan bahan-bahan untuk dimasak.
“Sedang apa, Nak..??” Tanya ibunya sembari membuka mukenanya perlahan.
“Oh, Ibu..!! Sudah shalatnya, Bu..!!”
“Ini saya sedang membuat sarapan pagi.” Timpal Dewi sambil mengiris bahan untuk membuat nasi goreng.
“Ya sudah, nanti ibu bantu setelah ibu ganti baju.” Sambung ibunya dan bergegas menuju kekamar untuk ganti baju.
Dan merekapun bahu-membahu menyiapkan sarapan pagi untuk disantap. Pagi ini, mereka harus berangkat sekolah lebih awal karena Dewi, kebagian tugas piket disekolahnya.
“Dewi, mana adikmu…??”
“Panggil cepat, nanti keburu siang” pinta ibunya kepada Dewi, kakaknya.
“Baik, Bu…!!” jawab Dewi singkat.
Dan merekapun menyegerakan sarapan pagi seadanya, lalu bergegas pamit untuk berangkat kesekolah.
“Ibu, Dewi berangkat dulu yah…!!” pamit Dewi.
“Ayu juga, Bu…!!” sambung Ayu ikuti ucapan kakaknya.
“Assalamu’alaikum..!!” ucap kompak mereka berdua untuk pamit.
“Iya, hati-hati nak..!! Wa’alaikum salam..!!
“Belajar yang baik, yah…!!” timpal ibunya tersenyum.
Kedua anak itupun bergegas pergi kesekolah dengan berjalan kaki, Ayu yang masih mengenyam pendidikan di Taman kanak-kanak, lebih dulu tiba di sekolahnya sementara Dewi masih harus menempuh 100m dari Taman kanak-kanak dimana Ayu belajar.
Ayu mengikuti pelajaran di Taman kanak-kanak karena mendapatkan bantuan dari pemerintah setempat karena ketidakmampuan orang tuanya.
Sementara Dewi, kakaknya mendapatkan bantuan dan orang tua asuh dari keluarga yang pernah ditolong oleh ayahnya ketika perampokan.


Sementara  dirumah, Sang ibu membereskan rumah kecilnya yang semua terbuat dari triplek dan sebagian terlihat terbuat dari bekas karton pabrikan yang mereka temple di sudut-sudut rumahnya. Lalu segera pergi untuk mencari nafkah sebagai pemulung dengan mengais sebuah karung yang berukuran cukup besar dan sebatang besi untuk mengkait barang-barang bekas tersebut.


Suasana Ketika pulang sekolah.....

 Teng..teng..teng…!! bel sekolah taman kanak-kanak berbunyi dan para muridpun segera pergi meninggalkan kelasnya masing-masing termasuk Ayu, yang segera pergi dari lingkungan sekolahnya dan menuju ke sekolah dimana kakaknya Dewi mengenyam pendidikan dasar.
Selang beberapa menit, kakaknya pun keluar dan melihat adiknya yang  sedang duduk dibawah pohon beringin yang rindang sambil memegang sebilah ranting pohon yang mengering dan diguratkan ketanah yang sedikit berpasir, lalu dihampirinya adiknya itu.
“Adek, sedang ngapain..??’’
“Sudah lama yah nunggu kakak…!!” sapa Dewi kepada adiknya.
“Kakak, sudah pulang...!! tidak kak, adek sedang menulis pake ranting saja ditanah”. Jawab adeknya sambil beranjak bangun dari jongkoknya.
“Pulang yuk, ibu pasti sudah menunggu,, kan kita harus Bantu ibu mencari nafkah”. Sambung kakaknya sembari merangkul dan menggandeng adiknya untuk segera beranjak pergi menyusul ibunya disekitar pembuangan sampah akhir.
“Baik, kak..!! ayo..!!” jawab adiknya tegas dan semangat.

Dan mereka berduapun menyusul ibunya untuk segera membantu ibunya mengumpulkan beberapa barang bekas seperti kaleng, karton, plastic dan besi untuk segera dijual kepenadah barang bekas yang berada diujung tempat pembuangan sampah tersebut.
Hingga waktu menjelang sore hari, keluarga tersebut kembali pulang kerumahnya dengan membawa hasil penjualan barang bekas tersebut untuk dipergunakan sebagai kebutuhan makan hari itu.
Malam pun menjelang, angin dingin bertiup kencang dan menyibakkan beberapa penutup rumah itu yang terbuat dari karton bahkan terdengar berisik ketika angin tersebut menerpa penutup yang terbuat dari seng atau sejenisnya.

Kehangatan keluarga dengan berkumpul menjadi kunci kebersamaan mereka meski angin yang masuk melalui celah-celah sudut rumah mereka dirasakan cukup dingin, dan cahaya lampu seadanya yang sedikit remang karena menggunakan lampu berukuran 5watt.
Ditengah rumah, kakak beradik ini giat-giatnya belajar pelajaran untuk esok pagi dan sebagian menyelesaikan Tugas Rumah yang telah diberikan oleh gurunya disekolah.
“Sudah selesai tugasnya, Dek…??” Tanya ibunya kepada si kecil Ayu, sembari menemaninya duduk diatas tikar yang sedikit kurang teratur rajutannya.
“Sudah, Bu..!!” adek sedang mempersiapkan buku untuk esok pagi”. Jawab Ayu dengan memasukkan sebagian bukunya kedalam tas berwarna merah.
“Klo kakak, sedang belajar apa..??” kembali bertanya kepada Dewi.
“Sedang menghafal fungsi organ manusia, Bu.!!” Jawab Dewi sambil memejamkan matanya, mencoba menghafal.
“Oh iya…kalau besar, cita-cita kalian mau jadi apa..?? hayo,, siapa yang mau jawab duluan….!!” sang ibu bertanya tentang cita-cita anaknya setelah besar nanti.
“Adek mau jadi apa…??” Ayu kebagian pertanyaan pertama.
“Nanti besar adek kepingin jadi Guru, Bu..!!” jawab Ayu dengan penuh semangat.
“Kenapa memilih menjadi guru,dek..??” si ibu kembali bertanya alasan pilihannya.
“Kenapa yah…!!” jawab Ayu sambil berpikir alasannya.
“Supaya bisa memberikan ilmu dan mengajarkan ilmu tersebut supaya orang menjadi pintar, dan tidak bodoh” jawab Ayu polos tentang alasannya.
“Bagaimana dengan kakak…??”
“Besar nanti mau jadi apa…??” tanya sang ibu kepada anak paling besarnya.
“Mau jadi dokter, Bu..!! supaya bisa membantu dan merawat orang-orang yang sakit supaya bisa sehat kembali”. jawab Dewi lugas dan singkat tentang cita-cita dan alasannya.
“Kabulkanlah Ya Allah cita-cita anak hamba yang sedemikian mulia ini, Amin.”
“Apapun cita-cita kalian, asalkan berguna kelak, ibu akan mendoakan supaya cita-cita kalian tercapai. Dengan belajar, belajar terus yang rajin, pasti kelak tercapai, Nak..!! berdoa dan memberikan semangat kepada kedua anaknya supaya giat terus belajar dan mengejar cita-cita yang diharapkannya sembari memeluk erat kedua anaknya dan sesekali mencium keduanya dengan mesra dan berlinanglah bilir-bulir bening yang keluar dari bola matanya seperti menyimpan kesedihan yang mendalam.

 “Ini sudah larut malam, baiknya kalian cepat tidur,besok kan harus bangun pagi-pagi”. Pinta ibunya untuk mengakhiri perbincangan dengan anaknya malam itu.
Merekapun segera membereskan buku dan perlengkapan sekolahnya lalu beranjak pergi untuk tidur.

0 komentar :

Posting Komentar

Dikomentarin Dong.......!!!

 
;