0 komentar

Cita-cita Untuk Bunda (Eps.2)

Setelah kedua anaknya beranjak tidur, sang ibu bergegas mengambil air wudhu kemudian melaksanakan shalat sunnah dan setelah itu mengenadahkan kedua tangannya seraya berdoa dan memanjatkan puja-puji kepada Sang Pencipta.
“Ya Tuhan,, berikan mereka rezeki dan jalan untuk menggapai cita-citanya. Dan jangan sampai anakku tahu sesunguhnya apa yang sedang saya alami dan rasakan. Biarkan hamba melihat mereka bahagia, dan biarkan anakku selalu melihatku tersenyum.
Berikan selalu kasih sayang-Mu, dan lindungi mereka dengan kesehatanmu, Amin.” Harap dan doa sang ibu untuk anaknya sambil menangis yang tak henti-hentinya mengeluarkan air mata.

Seperti yang diketahui sebelumnya, dulu sang ibu pernah sakit-sakitan dan setelah berobat kepada dokter,,,secara mengejutkan, dokter memvonisnya bahwa sang ibu menderita leukimia akut. Sedangkan untuk biaya berobat, mereka tidak mempunyai nilai nominal yang harus mereka keluarkan untuk biaya perawatan.
Sementara harta mereka yang tersedia sudah habis terkuras setelah suaminya berfoya-foya menghabiskan harta bendanya dengan bermain judi hingga mereka menjadikan rumah hunian mereka sebagai jaminannya karena terlilit oleh hutang suaminya.

Hari berganti hari, bulan dan tahun pun kian berlalu.
Dewi dan Ayu semakin beranjak menjadi anak pintar dan berprestasi sehingga mereka mendapatkan sebuah beasiswa dari sekolahnya. Sang ibupun menangis haru dan gembira setelah mendengar berita tersebut dari cerita anaknya sendiri.
Hingga suatu waktu, Dewi anak paling besar mempunyai angan-angan untuk melanjutkan kesekolah favorit sementara Ayu, adiknya melanjutkan sekolah dimana kakaknya dulu pernah mengenyam pendidikan.
Dan akhirnya, Dewi diadopsi oleh orang tua asuh yang tak lain adalah orang yang pernah ditolong oleh ayahnya.
“Assalamu’alaikum, Bu Dyah.!!” Panggil orang tua asuh itu yang biasa dipanggil Pak Roni.
“Wa’alaikum salam” jawab Bu Dyah sembari membuka pintu depannya.
“Oh, Pak Roni..Bu Dina..!!”
“Mari masuk Pak, Bu..!!” ajak Bu Dyah sambil mengajaknya untuk masuk dan duduk dilantai yang beralaskan tikar.
“Dewi dan Ayu pada kemana, Bu..??” tanya Pak Roni.
“ Oh, ada dibelakang,,,bentar saya panggil” jawab Bu Dyah sambil memberitahu dimana anak mereka berada.
“Dewi,,, Ayu,,,,!!”
“Sini, Nak…!! ada Paman Roni dan Bibi Dina nih…!!” panggil ibunya sembari menyebutkan siapa yang datang.
“Iya, Bu..,, sebentar..!!” sahut keduanya yang kemudian mendatangi ibunya.
“Nah, beri salam dulu sama paman dan bibi, nak..!!” pinta ibunya yang dilaksanakan oleh kedua anaknya tersebut.
“Wah, sudah pada besar yah sekarang..!!” cetus Pak Roni.
“Siapa yang nilainya paling tinggi nih..??” Pak Roni bertanya.
Lalu kedua anak itu tertunduk malu untuk menjawab dan hanya menebarkan senyum saja
“Dewi nilainya cukup bagus, Pak..!!”
“Kalau Ayu, lumayanlah, kan msih kecil dan perlu banyak belajar banyak lagi.” memberitahukan prestasi anaknya sembari merangkul mereka berdua dengan hangat.
“Ya sudah,,,sekarang siapa yang mau ikut dengan paman..??” ajak Pak Roni.
Dewi dan Ayu pun spontan menatap sosok ibunya.
“Ayo,,,Dewi atau Ayu yang mau ikut dengan Bu Dina…??” tanya ibu Dyah kepada kedua anaknya.
“Ayu,,,!!” tanya Bu Dina
“Gak mau,,,Ayu pengen dekat dengan ibu..!!” tolak Ayu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Bagaimana dengan Dewi..??” tanya Bu Dina lagi.
“Kalau ibu mengijinkan, Dewi ikut.”
“Tapi, kalau Dewi ikut, siapa yang akan mengurus dan merawat ibu..??”
“Lalu, siapa yang akan menemani Ayu” tanya Dewi beruntun sambil memeluk tubuh ibunya.
“Ya sudah,,,,kamu saja yang ikut dengan Paman dan Bibi, katanya punya citi-cita menjadi seorang dokter, kejarlah selagi bisa…kalau ibu kan masih bisa mengurus ibu sendiri dan Ayu nanti ibu yang nemenin.”timpal ibu Dyah sambil memberikan semangat dengan mengecup kening Dewi berulang-ulang.
“Betul kata ibumu,Wi.!! Toh, nanti kalau kamu liburan sekolah, kita bisa berkunjung lagi kesini bersama-sama, ya kan Bu..??cetus Pak Roni menyambung bujukan bu Dyah sembari memberikan harapan kepada Dewi.
“Kalau begitu, Dewi mau ikut Paman dan Bibi tapi janji, kalau libur sekolah, Dewi boleh ikut ibu, ya..!! jawab Dewi sedikit bimbang.
“Bergegaslah ganti bajumu..!!” suruh ibunya.
“Iya, Bu..!! jawab Dewi singkat dan bergegas masuk kekamar untuk mengganti pakaiannya.

0 komentar

Cita-cita Buat Bunda (Eps.3)

Sementara ibunya mencoba bertahan menahan kesakitan, mencoba tegar, ikhlas, dan tawakal.
“Allahu Akbar..!!”
“Laillahaillallah,, muhammadarosullullah”. Ucap dalam hati terbata-bata.
“Ya Allah, Ya Tuhanku,,, mudahkanlah jalanku, ampuni hambamu ini, segerakan sakaratul mautmu sebelum hamba melihat kesedihan yang teramat sangat dari buat hati hamba yang taat, hamba mohon Ya Allah.!! Asshaduallaillahaillah Wa’ashaduannamuhammadarrosulullah..!!” doa dan kalimat terakhir yang diucapkan Bu Dyah meski dalam hati yang diakhiri menutupnya mata dan berhentinya aktifitas organ tubuhnya dengan raut wajat yang bercahaya.

Di perjalanan menuju pulang, Ayu seperti mendapatkan sebuah firasat buruk yaitu obat batuk dalam kemasan botolnya terjatuh ketanah berserakan secara tiba-tiba.
“Astagfirullah…!!” ucapnya terkejut
Tanpa pikir panjang, Ayu segera berlari dan berlari menuju rumahnya dan menemui  ibunya yang sedang terbaring lemas tak berdaya.
“Ibu…. Ibu…. Ibu….!!” Teriak Ayu cemas.
“Bu, bangun Bu..!!” lirihnya sambil menarik-narik bajunya yang bermotif batik.
“Bu, Ayu sudah pulang, Bu..!!”
“Bangun dong, Bu..!!” harap lirihnya sambil menempelkan tangan ibunya dipipi sebelah kiri.
Teriak Ayu pun semakin menjadi tatkala tangan ibunya terasa dingin dengan kulit mulai berwarna pucat hingga denyut nadi ditangannya tiada berdenyut semestinya.
“Bu…..!!!” teriak Ayu.
“Ibu, jangan tinggalkan Ayu, Bu..!!”
“Ayu mohon..!!”
“Bangun, Bu…!!”
“Ibu….Ibu…..!!!” teriak Ayu yang sekencang-kencangnya hingga suaranya semakin parau dan tersendak-sendak.
Dan ternyata teriakan keras Ayu mengundang para tetangga berdatangan untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi dirumah itu. Dan ketika ditemuinya, terlihat seorang gadis kecil terkulai layu disamping ibunya yang telah meninggal.
“Innalillahi wainalillahi roji’un…!!” ucap para tetangga kompak.
Akhirnya para tetangga secara gotong royong mengurus pemakaman ibu Dyah karena warga menyadari bahwa keluarga ini termasuk keluarga yang kurang mampu.
Sementara anaknya Ayu, masih dalam keadaan tidak sadarkan diri karena masih merasa shock atas kematian ibu tercinta, dan sementara tinggal dengan tetangga yang simpati terhadapnya.

Dilain tempat, Dewi anaknya dan kakak dari Ayu mendapatkan firasat buruk juga yaitu ketika bercermin dikamarnya ternyata cermin yang berada didepannya jatuh dan menimpa kakinya.
“Praakkk..!!” cermin dikamar Dewi jatuh.
“Astagfirullah” Dewi spontan berucap.
“Apa yang terjadi ya…!!” tanya Dewi dalam hati.
“Wi, suara apa itu..??” tanya Bu Dina merasa kaget.
“I..ini, tante,,, cerminnya jatuh..!!” sahut Dewi sedikit terbata.
“lho,kok bisa…??” tanya Bu Dina heran.
“Dewi juga tidak tahu, tante,, tiba-tiba saja cermin ini jatuh” Dewi menjelaskan kronologis kejadian.
“Ya sudah,,, sekarang bersihkan puingnya,,,,nanti terinjak kakimu..!!” suruh Bu Dina.
“Iya, tante..!!” sahut Dewi
“Apakah ini sebuah firasat dari ibu dan Ayu..?? semoga saja tidak terjadi apa-apa dengan mereka.” Bertanya-tanya dalam hati seraya mengaburkan pikiran negativenya.
“Tante, kapan kita mengunjungi ibu dan Ayu..??” tanya Dewi sembari mengingatkan janjinya.
“Oh iya…!!”
“Tunggu paman pulang dulu dari luar kota, yah..!! 2 hari lagi paman pulang,,,,sekalian membeli boneka kesukaannya Ayu. Harga disanakan lebih murah dan bonekanya bagus-bagus.” Kata Bu Dina sembari mengelus-elus rambut Dewi yang panjang terurai.
“Jadi kamu sabar aja, ya..!!” sambung Bu Dina.
“Iya, tante..!!” pungkas Dewi lemas.

0 komentar

Cita-Cita Untuk Bunda (Eps.4)


Dan atas petunjuk alamat tersebut, Pak polisi pun tidak menyia-nyiakan waktunya untuk mendatangi kediaman Pak Roni.
“Tok…tok…tok…!!” suara pintu diketuk dari luar
“Selamat siang, Pak..!!” Tanya pak polisi
“Siang juga, ada keperluan apa bapak-bapak datang kesini..??” tanya Pak Roni kebingungan dan sedikit bertanya-tanya.
“Apakah benar ini alamatnya Bpk Roni Suganda..??” Pak polisi bertanya sambil membacakan nama dan alamat yang yang tertera didalam kartu nama tersebut.
“Iya, betul.., saya sendiri..!!”
“Ada yang bisa saya bantu, Pak..!!” kembali Pak Roni bertanya penasaran.
“Begini Pak Roni,, ada seorang anak gadis yang berumur sekitar 5-6 tahunan tadi pagi mengalami kecelakaan dan akhirnya meninggal dunia ketika dalam perjalanan menuju rumah sakit akibat pendarahan yang hebat. Dan sekarang jenazahnya sedang dalam pengawasan dirumah sakit. Apakah Bapak mengenal anak ini atau merasa kehilangan keluarga..??” Pak polisi mencoba menjelaskan perihal kedatangannya dan memberitahukan insiden yang menimpa gadis malang itu.
“Anak..?? saya tidak mempunyai anak, Pak..!! memang sih, saya mengadopsi anak perempuan tp umurnya sekitar 9 tahun dan itupun sedang berada diruangannya.” Pak Roni menjelaskan perihal anggota keluarganya dengan diliputi kebingungan.
“Tapi sebentar, Pak..!! saya tanya dulu kepada istri saya..!!” sambung Pak Roni.
“Mah,,, mamah..!! kesini dulu, mah..!!” teriak Pak Roni memanggil istrinya.
“Ada apa, Pah..!!” Bu Dina membalas sahutannya.
“Lho, kok ada polisi..??”
“Ini kenapa, Pah..?? Papah sudah melakukan kesalahan apa..??” Bu Dina kebingungan.
“Pak polisi, suami saya salah apa..??” sambung Bu Dina yang bertanya cemas dan terkejut.
“Ibu,, saya beserta bapak-bapak ini kesini hanya berdasarkan alamat dalam kartu nama ini, dan kartu nama ini sendiri kami dapati dalam genggaman seorang anak gadis yang meninggal karena kecelakaan di terminal tadi pagi.” Terang Pak polisi perihal kedatangannya.
“Gadis kecil,, kecelakaan..??” Bu Dina bertanya heran.
“Saya masih kurang begitu paham maksud dari bapak-bapak ini..??” sambung Bu Dina lagi.
“Ya sudah,, baiknya Bapak dan Ibu melihat dulu jenazah anak itu dan ini alamat rumah sakitnya.” Pak Polisi menyarankan agar mengecek ke rumah sakit.
“Baiklah,, saya akan melihat jenazah anak siapa dan siapa sebenarnya gadis itu.”
“Bu,,, pamggil Dewi.. kita sama-sama ke rumeh sakit tersebut.” Pak Roni mengakhiri perbincangannya dengan pak polisi sembari menyuruh istrinya untuk mengajak Dewi kerumah sakit.
“Wi,, ikut paman dan bibi ke rumah sakit yuk…!! Ajak Bu Dina sembari memanggil Dewi di kamarnya dengan rasa penuh penasaran.
“Iya, tante..!! kerumah sakit..??”
“Emangnya siapa yang sakit, tante..??” sahut Dewi  bertanya dalam kamar.
“Ada anak kecil yang tertabrak diterminal dan dia menggenggam kartu nama atas nama Bapak.” Bu Dina menjelaskan maksud dan tujuannya.
“Owh,, kalau begitu, Dewi ganti pakaian dulu sebentar, tante..!! balas Dewi sambil bergegas mengganti pakaiannya.
Tak berapa lama kemudian mereka sekeluargapun melaju dengan mobilnya menuju rumah sakit dengan didampingi beberapa polisi yang tadi datang kerumahnya.

Setibanya dirumah sakit, mereka langsung memarkir mobilnya ditempat yang telah disediakan dan segera keluar dari dalam mobil menuju lobi rumah sakit tersebut.
“Pak Roni dan Ibu,, ini rumah sakitnya.” ucap Pak Polisi.
“Terimakasih, Pak..!!” jawab Pak Roni singkat.
“Ayok,,, kita sama-sama masuk..!!” ajak pak polisi.
“Iya,, terimakasih Pak, mari..!!” jawab Pak Roni sambil mempersilahkan pak polisi untuk berjalan duluan.
Dan setelah Pak polisi tiba didepan pintu ruangan dimana jenazah anak kecil itu terbaring, pak polisi mempersilahkan keluarga ini untuk memeriksa jasad tersebut.
“Pak, Bu,,, silahkan bapak sekeluarga masuk dan memeriksa jenazah anak itu, siapa tahu bapak dan ibu mengenal identitas sebenarnya anak itu.
“Baik, Pak..!! terimakasih banyak bantuannya..!!” timpal Pak Roni.
“Ayo, mah,, kita periksa..!!” ajak Pak Roni kepada Dewi dan istrinya.
Akhirnya mereka bertigapun masuk pelan dengan wajah diselimuti rasa penasaran akan siapa sebenarnya anak ini hingga bisa memegang kartu namanya.
Sementara Dewi berjalan dibelakang mereka berdua.

Dan betapa terkejutnya bukan main tatkala Pak Roni menyibakkan kain yang menutupi mukanya yang tak lain adalah sosok gadis kecil yang pernah ia temui dan tak lain, adik dari anak asuhnya yang bernama Ayu.
“Laillahailallah,,, Innalillahiwainnaillahi roji’un..!!” sontak Pak Roni terkejut setelah membuka kain penutup wajah anak itu.
“Mah,, Dewi,, ini Ayu…!!” Pak Roni memberitahu bahwa yang terbaring tak berdaya adalah Ayu sembari menatap kosong kearah Dewi dan istrinya.
Sontak Dewi berlari dan mendekati jenazah adiknya sembari berteriak memanggil nama adiknya yang amat dia sayangi. Sementara Pak Roni dan Bu Dina hanya terdiam membisu menatap wajah mungil Ayu yang terbaring tak bernyawa dengan menangis dan kedua belah tangannya menutupi sebagian wajahnya seakan tak percaya.
“Ayu….Ayu….!!” teriak panjang Dewi seakan memekakkan seluruh telinga yang berada dalam rumah sakit itu.
“Ayu bangun,, ini kakak sayang..!! maafkan kakak, kakak tidak bisa menjaga Ayu,,, kakak telah meninggalkan Ayu dan ibu, kakak mohon,,,, maafkan kakak ya..!!” lirih Dewi disamping jenazah adiknya itu.
“Sudahlah, Nak… sabar..!!” Bu Dina coba menenangkan hati Dewi.
Dan tak lama kemudian, Pak polisi menghampiri keluarga yang berkabung ini.
“Apakah jenazah ini bagian dari keluarga Bapak..??” tanya Pak polisi kepada Pak Roni.
“Iya, Pak..!! saya mengenalnya dengan baik, dia sudah saya anggap sebagai bagian dari keluarga ini. Dia adalah adik dari anak yang saya asuh dan itu sudah menjadi tanggungjawab saya dan keluarga, dan saya ucapkan banyak terimakasih karena bapak telah memberitahu kami akan hal ini” cetus Pak Roni kepada pak polisi sembari mengucapkan terimakasih.
“Baiklah, Pak..!! saya serahkan sepenuhnya jenazah ini kepada bapak untuk mengurusnya dengan baik.”
“Kalau begitu, saya permisi pamit, Pak..!!” Pak polisi menyerahkan barang bawaan Ayu sembari meminta ijin untuk pamit dan langsung meninggalkan ruangan itu.
Tak lama kemudian petugas kamar jenazah mendatangi keluarga ini untuk memberitahukan bahwa jenazah Ayu segera akan dibersihkan.
“Nak,, sudah, sabar ya..!! mungkin ini sudah jalannya, kamu harus ikhlas,, ini cobaan, tegar ya..!!” pinta Bu Dina sambil merangkul tubuh Dewi untuk membiarkan para perawat untuk mengurus jenazah tersebut.
“Bapak,, Ibu,, dan Adik..!! bisa tunggu diluar sebentar, saya dan petugas kamar ini akan membersihkan dan memandikan jenazah tersebut. Dan bapak bisa mengurus administrasinya didepan supaya para petugas bisa memandikannya dengan segera dan bisa segera dimakamkan.” ucap salah seorang petugas kamar jenazah sembari mempersiapkan segala keperluan untuk memandikan jenazah tersebut.
“Baik, Pak..!! terimakasih sebelumnya.!!” sahut Pak Roni.
“Mari, Mah,, Dewi…!! Kita keluar sebentar supaya petugas bisa lebih focus mengurusnya.” ajak Pak Roni dan menuju keluar ruangan untuk segera menyelesaikan administrasi.

2 komentar

Noah Batam









0 komentar

Buku Kisah Lainnya

" Kisah Lainnya " adalah sebuah rilis buku dgn no.ISBN 9789799104823 yang merupakan hasil Catatan antara para personil Ex.Peterpan yang berawal di tahun 2010 hingga 2012.
Buku setebal 228 halaman dan berukuran 13.5 cm x 20 cm akan rilis dan didistribusikan kekhalayak ramai pada tanggal 05 Agustus 2012 dengan balutan Soft Cover Merah Marun yang dihiasi dengan Ikon Band mereka yaitu Bulu Putih menghadap ke kanan.
Berikut adalah Synopsis dari para penulis buku tersebut yang antara lain Ariel, Uki, Reza, Lukman dan David.








Synopsis : 

* Ariel
"Seaneh apapun kehidupan saya, saya tetap mensyukurinya, karena kehidupan itu sendiri sebenarnya adalah sebuah keajaiban. Bareskrim, Kebon Waru, adalah tempat mempersiapkan diri. Kami akan meneruskan perjalanan".

* Uki

"Banyak sekali spekulasi yang mengatakan kalau band ini sudah tidak akan bisa jalan lagi.... Album Suara Lainnya adalah jawaban bagi mereka yang meragukan kami".

* Lukman

"Saya banyak memahami soal keimanan, hubungan manusia dan Sang Khalik, dan hubungan dengan sesama manusia".

* Reza

"Ketika mengantre di kasir, seorang perempuan paruh baya mengeluarkan kalimat tak senonoh tentang diri Ariel. Saya mencoba untuk tampak biasa-biasa saja. Istri saya langsung pergi".

* David

"Selama masa-masa sulit itu, dalam doa, saya sangat berharap nafas jiwa saya bisa kembali hidup".





0 komentar

Sejarah Singkat Setahun Bengkel Sabda

Bengkel Sabda adalah satu komunitas para facebooker yang siap meramaikan jejaring soaial dunia maya.
Bengkel Sabda tercipta dari satu kesatuan dalam hal minat dan bakat masing-masing dari para anggotanya yang terdiri dari menulis secara lebih khusus.
Dan Bengkel Sabda adalah satu dari sekian banyak komunitas didunia maya yang tetap eksis bersosialisasi antara satu anggota dengan anggota lainnya melalui sebuah bakat yaitu menulis. Dan itu tercermin dari photo profil pertama komunitas ini yaitu sebuah buku yang terbuka luas dengan harapan dengan membaca dan menulis, dunia dalam genggaman.
Dalam perjalanannya, sudah terkumpul beberapa hasil karya berupa tulisan yang berbentuk puisi dan artikel-artikel singkat dari tiap-tiap anggotanya sehingga dari Bengkel Sabda sendiri berinisiatif membuat dan merangkulnya dalam bentuk sebuah buku perdana yang diberi nama "SEPARASI DOA".

Buku tersebut adalah hasil karya murni dari para anggotanya tanpa menyadur atau menduplikasi dari karya-karya orang lain sebelumnya.
Buku tercipta, pemasarannya pasti ada. Langkah pertama adalah melalui anggota-anggotanya itu sendiri, kerabat terdekat serta Toko-toko buku terdekat. Selain mencakup hal-hal yang telah disebutkan tadi, acara-acara seperti bazaar menjadi ajang promosi dari buku tersebut.
Alhasil, sebagian dari keuntungan dari buku tersebut adalah untuk kegiatan sosial dan disumbangkan untuk sosial kemanusiaan disamping untuk operasional lainnya.

Buku Perdana Separasi Doa
Para Pengurus Bengkel Sabda

Imaska

Fhoto bareng bersama Imaska

Memamerkan hasil kerajinan

Bengkel Sabda Stand Engku Putri
Dan itu terlihat ketika acara peluncuran perdana buku "SEPARASI DOA" yang bertempat di Panti Asuhan Birul Walidain Tiban Housing, yang memberikan sebagian hasil keuntungan dari penjualan buku tersebut kepada pihak pengurus dari Panti tersebut.
Penyerahan Bantuan
Acara peluncuran buku ini perdana ini jg diperagakan pembacaan puisi dari para kontribiutor dan para penulis puisi tersebut dan menyanyikan sebuah lagu dimana lagu tersebut bersumber dari puisi yang sebelumnya telah digubah menjadi syair lagu.
Dalam perkembangannya, komunitas yang dulunya hanya mencakup minat baca dan menulis, lambat laun berkembang menjadi komunitas Seni dan Sosial.
Sudah beberapa Panti dan Yayasan diluar Pulau Batam telah dikunjunginya guna ikut membantu meringankan apa yang mereka butuhkan semestinya.
Misi utama Bengkel Sabda itu sendiri adalah membantu Yayasan atau Panti-panti terpencil dan belum terjamah tangan oleh pihak yang terkait, dan kemungkinan Bengkel Sabda juga siap membantu Panti lain dimanapun mereka berada selama mereka memang layak untuk dibantu dan memerlukan bantuan selayaknya.
Panti-panti yamg pernah Bengkel Sabda kunjungi adalah :

* Panti Asuhan Birul Walidain

Foto Bareng Anak -anak Panti

Pembacaan Puisi

Anak-anak Panti Birul Walidain

Halaman depan Panti

Pembacaan Puisi diiringi musik



* Panti di Pulau Korek 






* Panti Asuhan Al-Mubarok 


Para Pengurus dan Anak-anak Panti


Belajar menghias Gonggong

Pembacaan Do'a yang dilakukan Anak-anak Panti

Belajar mewarnai

Pemberian Motivasi kepada peserta

Pembelajaran tentang menggambar anak



* Pulau Nguan

Sunnatan Massal
Photo Bareng Anggota Bengkel Sabda

MT.TEC Dan MT.NIDEC
Kerjasama dengan RSIA

Pembagian Sembako kepada Warga

Peserta Sunatan Massal

Pemberian Motivasi kepada Anak-anak

Pembagian Sembako


 * Panti Asuhan An-nur


Pemberian Bantuan yang dilakukan Oleh Sekretaris BS

Pemberian Bantuan yang dilakukan oleh Wakil Ketua BS

Pemberian Bantuan yang dilakukan oleh Ketua Koordinator Sosial

Pemberian bantuan yang dilakukan oleh Lika Lestari

Pemberian bantuan oleh Marcelinus dan Ilham


Kegiatan tersebut sudah menjadi agenda rutin setiap bulannya dari Bengkel Sabda itu sendiri secara eksternal.
Secara internal, Bengkel Sabda sendiri mesih menyimpan beberpa project salah satunya adalah membuat sebuah lagu yang keseluruhan berasal dari sebuah Buku SEPARASI DOA dan telah menghasilkan beberapa lagu yang salah satunya siap untuk dikemas dalam bentuk CD atau rekaman.
Selain Band musik, Bengkel Sabda juga membentuk sebuah grup theater, seni kerajinan tangan, dan fhotography. Hingga Bengkel Sabda merangkul semua aspek diantaranya Seni, Sosial, Media dan Budaya.

* Musikalitas, Seni dan Budaya






Perjalanan panjang dan rencana singkat Bengkel Sabda ternyata sudah mampu bersaing dengan komunitas lain bahkan instansi tertentu yang kemudian dihak patenkan dan berbadan hukum dengan No.Notaris AHU-0126.AH.02.01 Tahun 2010, menjadi Bengkel Sabda Foundation.

Akta Notaris


Perjalanan panjang itu tercipta berkat kerjasama, kebersamaan, loyalitas anggota satu dengan lainnya hingga tepat tgl 07 Juni 2012, Bengkel Sabda telah memasuki Setahun Kebersamaannya dan berdirinya Bengkel Sabda.
Dengan mengucap kata syukur dan sebagai rasa syukurnya Bengkel Sabda mengadakan acara doa bersama dan acara syukuran. Kemudian beberapa hari setelahnya, disusul acara bersama anggota dengan tema "Funday Anniversary" yang diisi dengan pementasan Band Bengkel Sabda, Lomba ketangkasan serta acara-acara lainnya yang menghibur.

Acara Syukuran dan Anniversary Bengkel Sabda













Tak ikut ketinggalan dan tanpa menangguhkan rasa berbagi sesama, Bengkel Sabda juga memberikan dan membagikan nasi bungkus kepada anak-anak jalanan seminggu setelah acara perayaan Ulang Tahun komunitas ini.

Peduli Anak-anak Jalanan
 








 
Dan terakhir, Bengkel Sabda juga bersimpati atas musibah kebakaran yang menimpa Panti Asuhan Ummi Al-Fitrah yang berlokasi di Tanjung Pinang dengan menggalang bantuan berupa uang tunai dan pakaian layak pakai dengan diwakili oleh beberapa pengurus dan anggota yang ikut mengunjungi lokasi musibah tersebut.

*Panti Asuhan Ummi Al-Fitrah 






Semoga kepedulian kita terhadap sesama tidak akan pernah pupus.........
Semoga kebersamaan kita satu sama lain tidak akan pernah terputus......
Semoga fondasi yang telah kita bangun tidak akan pernah hangus.....




Ciptakan Karya, Peduli Sesama.......
Bina Budaya, Luaskan Media.......
 
;