Setelah kedua anaknya beranjak tidur, sang ibu bergegas
mengambil air wudhu kemudian melaksanakan shalat sunnah dan setelah itu
mengenadahkan kedua tangannya seraya berdoa dan memanjatkan puja-puji kepada
Sang Pencipta.
“Ya Tuhan,, berikan mereka rezeki dan jalan untuk menggapai
cita-citanya. Dan jangan sampai anakku tahu sesunguhnya apa yang sedang saya
alami dan rasakan. Biarkan hamba melihat mereka bahagia, dan biarkan anakku
selalu melihatku tersenyum.
Berikan selalu kasih sayang-Mu, dan lindungi mereka dengan
kesehatanmu, Amin.” Harap dan doa sang ibu untuk anaknya sambil menangis yang
tak henti-hentinya mengeluarkan air mata.
Seperti yang diketahui sebelumnya, dulu sang ibu pernah
sakit-sakitan dan setelah berobat kepada dokter,,,secara mengejutkan, dokter
memvonisnya bahwa sang ibu menderita leukimia akut. Sedangkan untuk biaya
berobat, mereka tidak mempunyai nilai nominal yang harus mereka keluarkan untuk
biaya perawatan.
Sementara harta mereka yang tersedia sudah habis terkuras setelah suaminya berfoya-foya menghabiskan harta bendanya dengan bermain judi hingga mereka menjadikan rumah hunian mereka sebagai jaminannya karena terlilit oleh hutang suaminya.
Hari berganti hari, bulan dan tahun pun kian berlalu.
Sementara harta mereka yang tersedia sudah habis terkuras setelah suaminya berfoya-foya menghabiskan harta bendanya dengan bermain judi hingga mereka menjadikan rumah hunian mereka sebagai jaminannya karena terlilit oleh hutang suaminya.
Hari berganti hari, bulan dan tahun pun kian berlalu.
Dewi dan Ayu semakin beranjak menjadi anak pintar dan
berprestasi sehingga mereka mendapatkan sebuah beasiswa dari sekolahnya. Sang
ibupun menangis haru dan gembira setelah mendengar berita tersebut dari cerita
anaknya sendiri.
Hingga suatu waktu, Dewi anak paling besar mempunyai
angan-angan untuk melanjutkan kesekolah favorit sementara Ayu, adiknya
melanjutkan sekolah dimana kakaknya dulu pernah mengenyam pendidikan.
Dan akhirnya, Dewi diadopsi oleh orang tua asuh yang tak
lain adalah orang yang pernah ditolong oleh ayahnya.
“Assalamu’alaikum, Bu Dyah.!!” Panggil orang tua asuh itu
yang biasa dipanggil Pak Roni.
“Wa’alaikum salam” jawab Bu Dyah sembari membuka pintu
depannya.
“Oh, Pak Roni..Bu Dina..!!”
“Mari masuk Pak, Bu..!!” ajak Bu Dyah sambil mengajaknya
untuk masuk dan duduk dilantai yang beralaskan tikar.
“Dewi dan Ayu pada kemana, Bu..??” tanya Pak Roni.
“ Oh, ada dibelakang,,,bentar saya panggil” jawab Bu Dyah
sambil memberitahu dimana anak mereka berada.
“Dewi,,, Ayu,,,,!!”
“Sini, Nak…!! ada Paman Roni dan Bibi Dina nih…!!” panggil ibunya sembari menyebutkan siapa yang datang.
“Sini, Nak…!! ada Paman Roni dan Bibi Dina nih…!!” panggil ibunya sembari menyebutkan siapa yang datang.
“Iya, Bu..,, sebentar..!!” sahut keduanya yang kemudian
mendatangi ibunya.
“Nah, beri salam dulu sama paman dan bibi, nak..!!” pinta
ibunya yang dilaksanakan oleh kedua anaknya tersebut.
“Wah, sudah pada besar yah sekarang..!!” cetus Pak Roni.
“Siapa yang nilainya paling tinggi nih..??” Pak Roni
bertanya.
Lalu kedua anak itu tertunduk malu untuk menjawab dan hanya
menebarkan senyum saja
“Dewi nilainya cukup bagus, Pak..!!”
“Kalau Ayu, lumayanlah, kan msih kecil dan perlu banyak belajar banyak
lagi.” memberitahukan prestasi anaknya sembari merangkul mereka berdua dengan
hangat.
“Ya sudah,,,sekarang siapa yang mau ikut dengan paman..??”
ajak Pak Roni.
Dewi dan Ayu pun spontan menatap sosok ibunya.
“Ayo,,,Dewi atau Ayu yang mau ikut dengan Bu Dina…??” tanya
ibu Dyah kepada kedua anaknya.
“Ayu,,,!!” tanya Bu Dina
“Gak mau,,,Ayu pengen dekat dengan ibu..!!” tolak Ayu sambil
menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Bagaimana dengan Dewi..??” tanya Bu Dina lagi.
“Kalau ibu mengijinkan, Dewi ikut.”
“Tapi, kalau Dewi ikut, siapa yang akan mengurus dan merawat
ibu..??”
“Lalu, siapa yang akan menemani Ayu” tanya Dewi beruntun
sambil memeluk tubuh ibunya.
“Ya sudah,,,,kamu saja yang ikut dengan Paman dan Bibi,
katanya punya citi-cita menjadi seorang dokter, kejarlah selagi bisa…kalau ibu kan masih bisa mengurus
ibu sendiri dan Ayu nanti ibu yang nemenin.”timpal ibu Dyah sambil memberikan
semangat dengan mengecup kening Dewi berulang-ulang.
“Betul kata ibumu,Wi.!! Toh, nanti kalau kamu liburan
sekolah, kita bisa berkunjung lagi kesini bersama-sama, ya kan Bu..??cetus Pak Roni menyambung bujukan
bu Dyah sembari memberikan harapan kepada Dewi.
“Kalau begitu, Dewi mau ikut Paman dan Bibi tapi janji,
kalau libur sekolah, Dewi boleh ikut ibu, ya..!! jawab Dewi sedikit bimbang.
“Bergegaslah ganti bajumu..!!” suruh ibunya.
“Iya, Bu..!! jawab Dewi singkat dan bergegas masuk kekamar
untuk mengganti pakaiannya.







.jpg)


















.jpg)


















































.jpg)





-
Follow Us on Twitter!
-
"Join Us on Facebook!
-
RSS
Contact