Gerimis ini mengiringi tangisan seorang wanita cantik, wanita yang tegar hatinya, wanita yang cukup bersahaja, wanita yang selalu menundukkan pandangannya, wanita yang sempurna dimata setiap lelaki, termasuk diriku.
Tapi Allah Maha dari segala maha, dia hanyalah wanita biasa yang bisa sakit hatinya, yang bisa mengeluarkan air mata ketika bersedih. Dewi(nama lain), begitulah nama wanita yang ku pandang itu. Air matanya selalu mengalir dan tak tertahan lagi. Aku dan Dewi seperti seorang kakak beradik di kampungku. Sejak saat itulah kami mulai akrab dan masih melekat hingga sekarang.
" Dewi sudah tak tahan lagi, kak..!!" sudah beberapa kali ku dengar kalimat terucap dari bibirnya. Aku sebagai lelaki yang belum berpengalaman akan hal dan masih labil tentang sebuah pernikahan hanya bisa menguatkan dirinya tanpa memberi solusi.
" Wi, Allah itu Maha Penyayang, tidak akan Allah memberikan Dewi ujian sebesar ini kalau Dewi gak kuat. Dibalik semua ini ada hikmahnya,Wi. Mungkin saja Allah ingin menguji kecintaan kamu terhadap-Nya."
Air matanya semakin deras mengalir dari matanya yang kecoklat-coklatan. Ya Tuhan, kuatkan aku untuk bisa menguatkannya. Dan tiba-tiba, Dewi memelukku dengan sangat erat. Isak tangisnya berhenti sejenak, nafas panjang dikeluarkannnya, bibir merahnya berkemit memulai bertasbih, dan kubiarkan bahuku ini menjadi sandarannya dan menjadi wadah air matanya yang terus menetes.
Aku jadi teringat satu tahun yang lalu, ketika Dewi menikah dengan seorang pria yang bernama Fadly. Dengan wajah berpoleskan make-up yang sederhana, Dewi terlihat cantik dan sangat anggun, wajahnya yang jelita membuat semua orang terpana ketika melihatnya, termasuk aku.
" Subhanallah, kamu terlihat cantik dan anggun, Wi. Aku bak melihat sang bidadari yang Allah turunkan tiba-tiba dari langit." canda dan pujiku saat itu. Dewi hanya tersenyum dan tersipu malu, wajahnya pun sampai merah merona. Pria pendampingnya pun terpesona melihatnya, lalu duduk kembali menjaga pandangannya.
"Ka..." Mulutnya mulai terbuka memulai pembicaraan. Bang Fadly begitu mencintai Wi, dan Wi sangat beruntung mendapatkan suami seperti dia.
"Subhanallah..!!" .."Bang Fadly akan selalu setia sampai kapanpun walau apapun yang terjadi sama kami."
Kalimat itu masih terngiang sampai sekarang, masih melekat dan terekam bagus dalam otakku. Namun hingga saat ini, Allah belum memberikan seorang buah hati dalam pernikahannya, sehingga beberapa bulan yang lalu suaminya memutuskan untuk berpoligami. Terasa ditusuk sembilu hati ini ketika mendengar kabar itu. Awalnya Dewi menolak, tapi dengan dalih yang disertai dalil, Dewi coba ikhlas dan menerimanya.
Satu bulan berjalan, rumah itu bagai neraka bagi Dewi. Dewi tak kuat lagi ketika pakaian kerjanya disiapkan oleh wanita lain, sarapan yang biasanya ia siapkan dan masak sendiri dan sekarang diambil alih oleh wanita lain, bahkan membanding-bandingkan dirinya dengan wanita itu. Dan pada akhirnya, kesedihan Dewi membawanya bertemuku dikota ini, secara diam-diam.
Tapi Allah Maha dari segala maha, dia hanyalah wanita biasa yang bisa sakit hatinya, yang bisa mengeluarkan air mata ketika bersedih. Dewi(nama lain), begitulah nama wanita yang ku pandang itu. Air matanya selalu mengalir dan tak tertahan lagi. Aku dan Dewi seperti seorang kakak beradik di kampungku. Sejak saat itulah kami mulai akrab dan masih melekat hingga sekarang.
" Dewi sudah tak tahan lagi, kak..!!" sudah beberapa kali ku dengar kalimat terucap dari bibirnya. Aku sebagai lelaki yang belum berpengalaman akan hal dan masih labil tentang sebuah pernikahan hanya bisa menguatkan dirinya tanpa memberi solusi.
" Wi, Allah itu Maha Penyayang, tidak akan Allah memberikan Dewi ujian sebesar ini kalau Dewi gak kuat. Dibalik semua ini ada hikmahnya,Wi. Mungkin saja Allah ingin menguji kecintaan kamu terhadap-Nya."
Air matanya semakin deras mengalir dari matanya yang kecoklat-coklatan. Ya Tuhan, kuatkan aku untuk bisa menguatkannya. Dan tiba-tiba, Dewi memelukku dengan sangat erat. Isak tangisnya berhenti sejenak, nafas panjang dikeluarkannnya, bibir merahnya berkemit memulai bertasbih, dan kubiarkan bahuku ini menjadi sandarannya dan menjadi wadah air matanya yang terus menetes.
Aku jadi teringat satu tahun yang lalu, ketika Dewi menikah dengan seorang pria yang bernama Fadly. Dengan wajah berpoleskan make-up yang sederhana, Dewi terlihat cantik dan sangat anggun, wajahnya yang jelita membuat semua orang terpana ketika melihatnya, termasuk aku.
" Subhanallah, kamu terlihat cantik dan anggun, Wi. Aku bak melihat sang bidadari yang Allah turunkan tiba-tiba dari langit." canda dan pujiku saat itu. Dewi hanya tersenyum dan tersipu malu, wajahnya pun sampai merah merona. Pria pendampingnya pun terpesona melihatnya, lalu duduk kembali menjaga pandangannya.
"Ka..." Mulutnya mulai terbuka memulai pembicaraan. Bang Fadly begitu mencintai Wi, dan Wi sangat beruntung mendapatkan suami seperti dia.
"Subhanallah..!!" .."Bang Fadly akan selalu setia sampai kapanpun walau apapun yang terjadi sama kami."
Kalimat itu masih terngiang sampai sekarang, masih melekat dan terekam bagus dalam otakku. Namun hingga saat ini, Allah belum memberikan seorang buah hati dalam pernikahannya, sehingga beberapa bulan yang lalu suaminya memutuskan untuk berpoligami. Terasa ditusuk sembilu hati ini ketika mendengar kabar itu. Awalnya Dewi menolak, tapi dengan dalih yang disertai dalil, Dewi coba ikhlas dan menerimanya.
Satu bulan berjalan, rumah itu bagai neraka bagi Dewi. Dewi tak kuat lagi ketika pakaian kerjanya disiapkan oleh wanita lain, sarapan yang biasanya ia siapkan dan masak sendiri dan sekarang diambil alih oleh wanita lain, bahkan membanding-bandingkan dirinya dengan wanita itu. Dan pada akhirnya, kesedihan Dewi membawanya bertemuku dikota ini, secara diam-diam.

0 komentar :
Posting Komentar
Dikomentarin Dong.......!!!